Senin, 06 Juni 2011

MELAWAN SOEHARTO & QHADAFI (ANALISIS KOMPARATIF POLITIK)

KANKAH nasib Muammar Qhadafi bakal menyusul kisah Soeharto yang berhasil dilengserkan lewat gerakan rakyat? Baik Qhadafi maupun Soeharto, adalah dua sosok yang sama-sama memiliki latar belakang militer dan berhasil merebut kekuasaan lewat kudeta yang dilakukan. Qhadafi lewat penetrasinya dengan sejumlah tentara muda yang dikerahkannya berhasil menggulingkan kediktatoran Raja Idris I dan merebut kekuasaan. Sebagaimana Qhadafi, Soeharto lewat creeping coup yang dilancarkannya, juga berhasil merebut kekuasaan setelah “membunuh” kekuasaan Soekarno secara perlahan-lahan dan mendeklarasikan diri sebagai presiden pengganti. 

Melalui analisis comparative politics, dalam tulisan ini saya akan coba membandingkan kasus yang terjadi pada Qhadafi dan Soeharto. Sangat menarik apabila sepak terjang keduanya dibandingkan. Terdapat beberapa persamaan pada kasus Qhadafi dan Soeharto. Tetapi juga terdapat perbedaan-perbedaan. Keduanya memang berhasil merebut kekuasaan dengan cara yang sama, yakni kudeta militer. Keduanya juga adalah pemimpin yang otoriter. Dan karena kediktatorannya tersebut, keduanya juga sama-sama harus merasakan tamparan revolusi (baca : gerakan rakyat).

Bedanya, Soeharto tak pernah disebut seorang revolusioner seperti Qhadafi. Aksi kudeta yang dilakukan Soeharto bertujuan untuk memuaskan nafsu politiknya, yaitu menjadi presiden. Tujuan Soeharto menggulingkan Soekarno hanya  satu, merebut kekuasaan. Gelar revolusioner tak didapatkan Soeharto karena kudeta yang dilakukannya tidak dibarengi dengan dukungan rakyat–walaupun pada saat itu Soekarno tengah dikecam oleh berbagai gerakan rakyat yang anti PKI. Berbeda dengan Qhadafi yang dielu-elukan rakyat Lybia karena berhasil mengakhiri rezim kediktatoran Raja Idris I.
Walaupun begitu, Qhadafi yang seorang revolusioner dan menjadi harapan rakyat untuk terciptanya perubahan, justru memimpim Lybia dengan cara-cara yang otoriter. Sama seperti yang dilakukan Soeharto ketika menjadi presiden. Inilah yang menyebabkan kedunya harus diterjang gelombang revolusi(di Indonesia disebut Reformasi). Ketika melakukan kudeta, Qhadafi mendapat dukungan penuh dari rakyat. Fathi Baja, seorang rakyat Lybia, masuk dalam barisan gerakan revolusi untuk “memecat” Raja Idris I bersama Qhadafi di Banghazi 42 tahun silam. Ironisnya, 42 tahun kemudian, ia kembali ikut revolusi, tapi kali ini untuk “memecat” Qhadafi yang dulu ia dukung (Tempo, 07 maret 2011).

Meskipun gerakan massa terus mendesak Qhadafi agar segera mundur dari kekuasaan, tuntutan tersebut tak langsung dipenuhi. Qhadafi bersikeras untuk tak mundur. Berbeda dengan Soeharto yang tak butuh waktu lama untuk menyatakan mengundurkan diri setelah ia dituntut turun tahta oleh gerakan reformasi yang terdiri dari berbagai elemen bangsa pada tahun 1998.

Dari segi karakter massa pun berbeda. Rakyat Indonesia yang dipimpin oleh gerakan mahasiswa berada dalam satu barisan untuk menuntut mundurnya presiden Soeharto. Rakyat tidak terfragmentasi seperti yang terjadi di Lybia, sehingga rakyat Indonesia berada pada satu tujuan dan konsistensi terhadap gerakan tetap terjaga. Akan tetapi, rakyat Lybia terbagi dalam dua kubu, yakni kubu pro-Qhadafi dan kubu oposisi. Walaupun memerintah dengan sistem otoriter, rakyat masih ada yang mendukung Qhadafi. Rakyat yang masih setia pada Qhadafi tidak ingin sang revolusiner yang mereka banggakan “jatuh”. Soeharto lengser karena kehilangan tameng utamanya yang dari awal dipakai untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan, yaitu kekuatan militer. Saat kekacauan yang terjadi di mei 1998 tersebut, militer mulai menolak perintah Soeharto. Berbeda dengan Qhadafi, alat yang dipakai untuk memproteksi kekuasaannya tidak hanya terletak pada kekuatan militer, tapi juga dengan mempersenjatai rakyat sipil yang masih setia kepadanya. Dan yang lebih ironisnya, rakyat yang berada pada barisan oposisi juga dilengkapi dengan senjata. Sehingga jelas berbeda dengan rakyat Indonesia sewaktu merapatkan barisan untuk menentang rezim orde baru yang dipimpin oleh Soeharto, rakyat Lybia terbagi dalam dua kubu sehingga revolusi yang terjadi di Lybia tidak berjalan dengan mulus karena rakyat terfragmentasi. Padahal, revolusi baru ampuh dilakukan jika semua rakyat berada dalam satu barisan.

Gerakan revolusi ibarat malaikat pencabut nyawa. Lewat gerakan ini, seorang pemimpin bisa mencapai ajal politiknya. Begitu pula yang terjadi di timur tengah belakangan ini. Bermula dari Tunisia, wabah revolusi terus menjalar ke beberapa Negara di timur tengah. Sampai pada akhirnya wabah revolusi ini tiba di negeri yang dipimpin oleh seorang revolusioner. Namun, sang revolusioner tak “serapuh” pemimpin Negara-negara timur tengah lainnya yang berhasil dilengserkan oleh gerakan revolusi. Dengan menghalalkan segala cara, Qhadafi mempertahankan kekuasaannya walaupun harus membunuh rakyat yang melawannya. Sewaktu mengkudeta Raja Idris I, Qhadafi berhasil merebut kekuasaan tanpa terjadi pertumpahan darah. Saat itu Raja Idris I sedang berkunjung ke Turki untuk berobat. Akan tetapi, saat rakyat Lybia mencoba melawan Qhadafi yang dulu mereka agung-agungkan, pertumpahan darahpun terjadi. Qhadafi yang dulu dianggap sebagai “penyelamat” oleh rakyat, kini harus membunuh rakyatnya sendiri yang menentangnya. Sang revolusioner yang otoriter kini harus merasakan sendiri bagaimana rasanya direvolusi.

sumber gambar : baru2.net

sumber gambar : wartanews.com

0 komentar:

aYO aYO mERIAH kan
MARI BERLANGGANAN Folow kami
Contak: - 081990118898 - 085277887789
MARI Sumbang tulisan anda
aYO aYO mURAH mERIAH
Terima Kasih