Sabtu, 04 Juni 2011

LHOKSEUMAWE MENURUT TANTE DAN AKTIVIS

SEORANG kerabat yang datang dari luar daerah meminta saya menemaninya berjalan-jalan di kota Lhokseumawe. Ini adalah kedua kalinya Dia dan ibunya berkunjung ke Lhokseumawe. Terakhir mereka datang pada saat konflik GAM-RI masih bergejolak. Tapi sekarang sudah aman. Selama seminggu, saya ajak mereka berkeliling kota untuk melihat-lihat perubahan-perubahannya. Keduanya sangat menikmati pemandangan kota, baik di siang hari maupun malam hari. Tak hanya di pusat kota dan pusat perbelanjaan, mereka juga saya ajak ke berbagai tempat wisata di kota kecil tersebut. Saya temani mereka berbelanja sembari memamerkan kehebatan pembangunan kota Lhokseumawe. Dengan rasa bangga, saya memperkenalkan kota yang dijuluki Petro Dollar tersebut pada mereka. Welcome to Petro Dollar City.

Setelah selesai berbelanja, kami pun menyusuri jalanan kota, santai di taman kota, melihat-lihat lapangan Hiraq yang tak banyak berubah dari dulu sampai sekarang, waduk, objek wisata ujong blang, tempat makan, dan ke berbagai tempat menarik lainnya. Setelah merasa puas, kami pun bergegas pulang.

Sesampainya di rumah, dengan wajah yang sumringah, Ibu kerabat saya bilang, “ Tante puas berbelanja”. Lalu Dia berujar, “Lhokseumawe sudah tumbuh pesat dibandingkan dengan saat konflik beberapa tahun yang lalu”. Dulu waktu Tante ke sini, keadaannya mencekam. Kalau malam jarang ada toko yang buka yang buka. Sekarang Infrastruktur pun semakin baik, mulai dari jalan dua jalur, taman kota, dan lampu-lampu di malam hari membuat kota ini terasa indah. Tapi tetap saja, masih belum seberapa dengan kota asal tante. Tante yakin, kalau kamu dulu pulang ke rumah di bawah jam Sembilan-an, kalau sekarang pasti pulangnya sudah berani sampai larut malam karena situasi aman. Iya kan?”

Dengan nada sedikit pamer, saya memaparkan beberapa prestasi yang diraih kota Lhokseumawe. “Tante lihat saja sekarang, pembangunan di kota ini patut diapresiasi. Lagian kota ini pernah mendapatkan penghargaan adipura dari Presiden. Ditambah lagi pertokoan yang semakin banyak, jalan raya pun sudah dua jalur. Cafe-cafe pun mulai menjamur. Tiap malam anak muda nongkrong di sana. Suasana aman, bahkan kita bisa pulang hingga larut malam dengan aman.”

Sambil memilah barang belanjaan, si tante melanjutkan komentarnya terhadap kota Lhokseumawe. “Tante kagum dengan perkembangan kota ini. Dari yang tante amati, kota ini sangat menarik walaupun kecil. Kemudian tante sempat kagum dengan Islamic Centre yang kamu tunjukkan ke Tante tadi. Walaupun belum selesai, nantinya pasti akan menjadi salah satu ciri khas kota ini yang sangat menonjol. Mudah-mudahan pemerintah kota ini bisa merampungkannya dengan cepat dan tidak ditelantarkan.”

Setelah ibunya berbicara, kerabat saya yang seorang aktivis segera menimpali. “Memang benar kalau dikatakan pembangunan di kota ini berkembang dengan pesat daripada beberapa tahun yang lalu saat kita mengunjungi kota ini semasa konflik. Kinerja pemerintah kota dalam memajukan pembangunan juga patut diapresiasi. Saya pun beri dua jempol. Tetapi pengamatan saya dari hasil jalan-jalan kita selama seminggu ini menyimpulkan bahwa di samping pembangunan infrastruktur yang semakin baik, justru terdapat beberapa hal yang membuat saya mengelus-elus dada. Kota ini sangat gersang kalau di siang hari akibat kurangnya pepohonan. Kecuali hanya di beberapa ruas jalan yang sejuk, misalnya di taman kota. Pengemis duduk di pinggir jalan dan mengharap belas kasihan pada para pengguna jalan saat berhenti di lampu lalu-lintas. Saya juga melihat adanya pemukiman-pemukiman kumuh di pinggiran kota.  Ketika hujan turun, beberapa ruas jalan yang masih dalam wilayah perkotaan tergenang air. Tata ruang kota masih belum baik. Ini harus diseimbangkan antara pembangunan fisik dan kesehatan lingkungan. Kalau tidak, pembangunan fisik kota ini bakalan seperti banteng yang menabrak secara membabi-buta. Artinya, pembangunan dilangsungkan secara terus-menerus tetapi kondisi lingkungan mengalami degradasi. Akibatnya terjadi masalah lingkungan seperti banjir atau genangan air di beberapa ruas jalan, cuaca terasa gersang karena pohon-pohon ditebang untuk memperluas jalan, ruas tanah semakin berkurang karena pertokoan semakin tumbuh pesat, dan berbagai hal lainnya yang tidak hanya disebabkan oleh efek pembangunan tapi juga diperburuk dengan meningkatnya efek pemanasan global. Untuk itu harusnya pemerintah kota ini menyeimbangkan antara laju pembangunan dengan memperhatikan kondisi lingkungan”.
Si kerabat melanjutkan. “Di malam hari, sementara para pejabat tengah tidur di kasur empuk mereka, pengemis anak-anak berkeliaran hingga tengah malam. Kemudian, beberapa hari ini saya membaca Koran terbitan lokal yang mana hampir setiap hari ada berita mengenai ditangkapnya sepasang muda-mudi yang tengah bermesum. Kalau di kota saya, perbuatan seperti itu mungkin tidak mengherankan jika kita dapati. Tetapi, di kota yang harusnya syariat islam ditegakkan secara khaffah masih saja kita dapati perbuatan tercela yang demikian. Bahkan pelakunya kebanyakan remaja, walaupun juga ada beberapa orang yang sudah tua ditangkap karena kasus Khalwat. Mungkin orang-orang tua seperti ini tidak mau kalah “panas” dengan muda-mudi.

Terakhir kerabat saya memberi saran. “Kalau mau sukses secara menyeluruh, pemerintah kota Lhokseumawe harus melakukan penyeimbangan antara laju pembangunan dan perbaikan lingkungan sosial. Pembangunan infrastruktur harus diseimbangkan dengan terciptanya kesehatan lingkungan, kemudian pembangunan infrastruktur harus juga diseimbangkan dengan pembangunan moral warga agar infrastruktur yang dibangun tersebut tidak dipakai untuk hal-hal yang tidak bermoral seperti mesum di waduk atau Islamic Centre, dan berbagai obyek wisata lainnya di kota Lhokseumawe. Pembangunan Infrastruktur juga diseimbangkan dengan kodisi kesejahteraan masyarakat. Janganlah kita membangun gedung tinggi-tinggi sehingga gubuk si miskin menjadi gelap karena gedung kita menghalangi sinar matahari masuk ke gubuknya. Sejahterakan yang miskin agar tinggal di tempat yang layak. Anak-anak harus kita pedulikan agar mereka menjalani hidupnya secara wajar sebagai anak-anak. Bukan mengemis hingga larut malam, tetapi belajar di rumah. Bagi yang putus sekolah, pemerintah hendaknya bertindak cepat”.

Dua pandangan berbeda tersebut memang menggambarkan situasi riil kota Lhokseumawe saat ini. Di samping kita merasa bangga dengan pembangunan yang pesat, ada sisi lain di kota ini yang membuat kita merasa prihatin. Sudah sepantasnya semua elemen masyarakat bersama pemerintah bersinergi dalam mencapai kesejahteraan secara menyeluruh.

Yang harus digaris bawahi adalah, pemerintah kota seharusnya melakukan penyeimbangan antara pembangunan fisik dengan kesehatan lingkungan, ekonomi dan kesejahteraan sosial.
Sementara itu, kalau aktivis dari kota lain saja sangat peka mengamati kondisi kota Lhokseumawe, kenapa para aktivis di kota Lhokseumawe terkesan melempem dan beberapa diantaranya hanya asyik berproposal ria sehingga lupa akan peran dan tanggung jawab sosialnya? Kalau para aktivis tengah sibuk berproposal, sementara masyarakat sudah seperti rumput kering, mahasiswa harus turun tangan membantu pemerintah.



sumber gambar : agensandallucu.blogspot.com
sumber gambar : mrasyidin.blogspot.com
LHOKSEUMAWE. 20/8 - ISLAMIC CENTRE. Sebuah perahu nelayan melintas tidak jauh dari gedung Islamic Centre milik pemkab Aceh Utara yang dibangun senilai Rp.110 miliyar lebih, Kamis (20/8). Bangunan termegah milik pemerintah Kabupaten Aceh Utara telah di serahkan kepada pemerintah kota Lhokseumawe belum lama ini. FOTO ANTARA/RAHMAD/ss/nz/09 ANTARA

0 komentar:

aYO aYO mERIAH kan
MARI BERLANGGANAN Folow kami
Contak: - 081990118898 - 085277887789
MARI Sumbang tulisan anda
aYO aYO mURAH mERIAH
Terima Kasih