* Minyak Cemari Sumur Warga
Seorang warga mengumpulkan cairan sejenis minyak tanah yang diambil dalam sumur di Desa Meunasah Mesjid Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, Rabu (8/6). SERAMBI/JAFARUDDIN
Laporan matinya ikan dan udang di alur Kuala Meuraksa dalam radius sekitar 10 kilometer sejak Senin (6/6) malam pukul 22.00 WIB hingga Selasa (7/6) sore direspons oleh pejabat Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK) Lhokseumawe. “Kami secepatnya membentuk tim dan melakukan penelitian ke lokasi,” kata Kepala BLHK Lhokseumawe, Ishaq Rizal kepada Serambi, Rabu (8/6) sore.
Mengutip hasil penelitian timnya, Ishaq mengatakan, dugaan sementara penyebab matinya ikan dan udang di Kuala Meuraksa karena faktor alam yang ekstrem akhir-akhir ini. “Kecil kemungkinan pencemaran di Kuala Meuraksa karena limbah pabrik es, sebab setelah kami tinjau ke lokasi pabrik es mereka juga memiliki tempat pembuangan limbah tersendiri,” ujar Ishaq.
Ishaq menjelaskan, pencemaran di Kuala Meuraksa sangat terkait dengan cuaca ekstrem yang terjadi selama dua pekan terakhir di kawasan Aceh Utara dan Lhokseumawe. Akibat cuaca panas menyengat itu, lumpur di sepanjang pinggir kuala mengering. Saat lumpur kering itu diguyur hujan, mengeluarkan gas beracun. “Gas beracun yang keluar dari lumpur kering inilah yang diduga sumber pencemaran,” ujarnya. Dugaan itu juga didasari kondisi cuaca selama dua pekan terakhir, di mana pada siang hari temperatur sangat tinggi, sedangkan malam harinya hujan. “Inilah yang mempengaruhi air dalam kuala. Hal serupa pernah terjadi di waduk Lhokseumawe” katanya menambahkan.
Sample pabrik es
Meski penyebab pencemaran lebih mengarah ke gas beracun dari lumpur kuala, namun tim BLHK Lhokseumawe tetap saja mengambil sampel limbah pabrik es yang ada di kawasan Blang Mangat. Karena sebelumnya ada dugaan sumber pencemaran dari limbah pabrik es. “Kami tetap akan meneliti sampel limbah pabrik es. Sedangkan sampel ikan yang mati tidak kami ambil karena ikannya tak ada lagi. Warga memang mengakui banyak ikan yang mati,” kata Ishaq.
Terkait dengan kejadian di Kuala Meuraksa tersebut, Serambi juga meminta penjelasan Kepala Dinas Kelauatan, Perikanan dan Pertanian (DKPP) Kota Lhokseumawe, Rizal.
Rizal yang ketika dihubungi melalui ponselnya sedang berada di Medan mengaku baru mengetahui adanya pencemaran di Kuala Meuraksa pada Rabu sore. “Kami akan berkoordinasi dengan BLHK, menunggu hasil tes sampel yang diambil BLHK,” ujar Rizal.
Sumur tercemar minyak
Saat pencemaran Kuala Meuraksa masih santer dibicarakan, tiba-tiba--juga di Kota Lhokseumawe--tepatnya di Desa Meunasah Mesjid, Kecamatan Muara Dua, terjadi pencemaran sumur dengan minyak, yang diduga minyak tanah. Bahkan, minyak yang menggenangi sumur milik Maryati (56) bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak.
Kepala BLHK Lhokseumawe, Ishaq Rizal kepada Serambi mengatakan pihaknya sudah turun untuk meneliti pencemaran sumur warga Meunasah Mesjid tersebut. “Saya sudah turun langsung ke lokasi bersama Pak Wali Kota,” kata Ishaq.
Berdasarkan pengamatan, dalam sumur milik Maryati seperti ada sumber minyak sejenis minyak tanah. “Ketika kami tes pH airnya sudah mencapai 9, itu artinya air tersebut tak normal lagi dan tidak bisa dikonsumsi, karena air normal pH-nya 6 sampai 7,” ujarnya.
Menurut Ishaq, pihaknya sudah mengambil sampel air sumur tersebut untuk dites di laboratorium guna memastikan apakah air yang bercampur dengan sejenis minyak itu minyak tanah atau bukan.
Bisa untuk bahan bakar
Amatan Serambi, Rabu (8/6) siang, dalam sumur terlihat gelembung minyak, bahkan di sekitar sumur tersebut menebarkan bau minyak tanah. Aminah (38), anak dari Maryati mengatakan, kejadian itu diketahuinya saat dia hendak berwuduk, Selasa (7/6) sekitar pukul 06.00 WIB. “Ketika sampai di sumur saya mencium bau seperti minyak tanah, lalu saya menimba air, ternyata dalam timba seperti minyak bercampur air,” katanya.
Aminah sempat curiga ada yang menumpahkan minyak tanah ke dalam sumur, karena selama ini keluarganya memasak menggunakan bahan bakar minyak tanah. “Setelah saya perhatikan dua jam kemudian ternyata ada gelembung seperti minyak, lalu baru saya laporkan ke Pak Keuchik dan kemudian diteruskan ke dinas terkait,” tutur Aminah.
Aminah juga sempat mencoba membakar kertas yang dibasahi dengan minyak dari dalam sumur, ternyata kertas langsung disambar api. Keluarga Aminah juga mengambil minyak dalam sumur tersebut untuk memasak. “Api kompor yang menggunakan minyak yang kami timba dari dalam sumur tetap menyala seperti biasa, malah terlihat biru,” ujarnya.
Aminah mengatakan, dirinya sudah mengumpulkan sebanyak lima liter minyak dari dalam sumur tersebut. Guna menghindari terjadinya kebakaran, keluarga Aminah telah memindahkan lokasi memasak ke ruangan lain, karena gelembung minyak terus keluar.(c37)
Sumber : serambinews.com







0 komentar:
Posting Komentar